Memaparkan catatan dengan label Tokoh Islam. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Tokoh Islam. Papar semua catatan

Ahad, 17 Jun 2012

Perginya Jiwa Yang Tenang (Murabbi Abad Ini)




Ustaz Yahya: Murabbi tak pernah lelah mendidik


Langit petang ini seperti rawan berduka, awan mengarak berita yang memeritkan sukma seperti petir membelah langit. Segalanya seperti kebetulan mengapa beberapa hari ini saya merasa begitu teringatkan Ustaz Yahya Othman terutama janji untuk menyusun kertas kerja tarbiah yang puluhan atau ratusan yang ditulis almarhum. Petang menjelang jumaat yang berkat ini, saya  bersama Dr Supyan membelek foto-foto lama program MISNA yang diadakan pada tahun 1991. ”Wah, Ustaz Yahya masih muda bertenaga” kata saya teruja pada teman apabila melihat Ustaz Yahya yang kelihatan merenung para peserta program musim sejuk anjuran 

Isnin, 4 Januari 2010

Imam Al - Ghazali

Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/ 1059 di Thus daerah Khurasan. Ia dikenal dengan Al - Ghazali karena ayahnya pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Beliau wafat pada tahun 505 H / 1111.



Pendidikannya dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al - Razkani al - Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash al-Ismaili mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke Thus belajar tasawuf dengan Syekh Yusuf al - Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke Nisyapur belajar kepada Abul Ma'al al-Juwaini yang bergelar Imam al - Haramain dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada Syekh Abu Ali al - Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al - Farmadi, dan ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh.

Setelah Imam al - Juwaini wafat ia pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi dan seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya membawanya menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H, disamping memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam. Kecermelangan, keharuman namanya dan...
kesenangan duniawi yang melimpah ruah di Baghdad melebihi ketika ia di Mu'askar, dikota ini ia sakit dan secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kegemerlapan duniawi tersebut.

Mulai th 488 H/ 1095 ia ke Damaskus. di Masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir dipuncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan dan minum yang terbatas. Ia memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus menerus seperti itu selama 2 tahun di Damaskus. Setelah itu pergi ke Baitul Maqdis di Palestina, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah untuk berzikir, ia juga ke al - Khalil berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dari Palestina, ia melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah ke makam Rasullulah di Madinah.

Ia pernah kembali ke Baghdad untuk mengajar di Perguruan Nidzamiyah Baghdad, namum tidak berapa lama kemudian kembali ke Thus dan mendirikan khanaqah untuk para sufi dan mendirikan madrasah untuk mengajar ilmu Tasawuf.

Karya - karya tulis Al-Ghazali meliputi berbagai bidang keislaman, Kalam, Fiqh, Filsafat, Tasawuf dan lain lainnya yang berbentuk buku maupun risalah.

Kitab kitab Al -Ghazali yang membahas tentang Tasawuf :

Mizan al - 'Amal
Al - Ma'arif al-Aqliah wa Lubab al - Hikmah al - Ilahiyah
Ihya 'Ulumiddin
Al - Maqshad al - Astna Fi Syarh Asma al - Husna
Bidayat al - Hidayah
Al - Madhnun Bih 'ala Ghairi Ahlil
Kaimiya al - Sa'adah
Misykat al - Anwar
Al - Kasyf Wa al - Tabyin Fi Ghurur al - Naas Ajma'in
Al - Munqidz Min al - Dhalal
Al - Durrat al Fakhirah Fi Kasyf 'Ulumi al - Akhirah
Minhaj al - 'Abidin Ila Jannati Rabbi al - 'Alamin
Al - Arba'in Fi Ushul al - Din
Tasawuf Al - Ghazali menghimpun akidah, syariat dan akhlak dalam suatu sistematika yang kuat dan amat berbobot, karena teori - teori tasawufnya lahir dari kajian dan pengalaman pribadi setelah melaksanakan suluk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan berkesinambungan, sehingga dapat dikatakan bahwa seumur hidupnya ia bertasawuf.

Dalam pandangannya, Ilmu Tasawuf mengandung 2 bagian penting, pertama menyangkut ilmu mu'amalah dan bagian kedua menyangkut ilmu mukasyafah, hal ini diuraikan dalam karyanya Ihya 'Ulumiddin, Al -Ghazali menyusun menjadi 4 bab utama dan masing-masing dibagi lagi kedalam 10 pasal yaitu :

Bab pertama : tentang ibadah (rubu' al - ibadah)
Bab kedua : tentang adat istiadat (rubu' al - adat)
Bab ketiga : tentang hal -hal yang mencelakakan (rubu' al - muhlikat)
Bab keempat : tentang maqamat dan ahwal (rubu' al - munjiyat)
Menurutnya, perjalanan tasawuf itu pada hakekatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan hati terus menerus sehingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik disisi manusia maupun Tuhan.
Imam Al -Ghazali yang bergelar Hujjatul Islam meninggal dikota kelahirannya Thus pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H.


Selasa, 29 Disember 2009

ABDURRAHMAN BIN 'AUF : Dermawan yang masuk syurga



Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram,terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.



Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang. Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ...... Ummul Mu'minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: "Apakah yang telah terjadi dikota Madinah…..?" Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin 'Auf barn datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya . .. Kata Ummul Mu'minin lagi: -- "Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?" "Benar, ya Ummal Mu'minin ... karena ada 700 kendaraan...... !" Ummul Mu'minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.

Kemudian katanya: "Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "K ulihat Abdurrahman bin'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!"Abdurrahman bin 'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan... ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul.. ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lain berkata kepadanya: "Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya....".Kemudian ulasnyalagi: "Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah 'azza wajalla.....!" Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar .... Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin 'Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah ...! Dialah seorang Mu'min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh kawna keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela ... !

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing.... Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da'wah, yakni sebelum Rasulullah saw. memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang-orang Mu'min ... Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam.. . . Abu, Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Makatak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui RasuIullah saw. menyatakan bai'at dan memikul bendera Islam....Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai Seorang Mu'min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. memasukkannya dalam sepuluh orang Yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

Dan Umar r.a. mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: "Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!"

Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menceritakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy .... Dan sewaktu Nabi saw., memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Nabsyi, Ibnu 'Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah . . . ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya.

Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya: "Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak......!" Perniagaan bagi Abdurrahman bin 'Auf r.a. bukan berarti rakus dan loba .. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajibanyang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya ... ·

Dan Abdurrahman bin 'Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya ....Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan .....

Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah ....Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah. Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin .. , sampai-sampai soal rumahtangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk memperisteri saudaranya ......!

Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin Rabi'.... Dan marilah kita dengarkan shahabat yang mulia Anas bin Malik r.a. meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi: " ... dan berkatalah Sa'ad kepada Abdurrahman: "Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya......!

Jawab Abdurrahman bin 'Auf: "Moga-moga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda ! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga....! Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana.......ia pun beroleh keuntungan ...!

Kehidupan Abdurrahman bin 'Auf di Madinah baik semasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam maupun sesudah wafatnya terus meningkat · · · Barang apa Saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak.....! Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri . · · tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam ..... Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin 'Auf itu dapat dikira-kirakan apabila kita memperhatikan nilai dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul'alamin! Pada suatu hati ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Wahai ibnu 'Auf! anda termasuh golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan....! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda....!" Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyediakan bagi AIlah pinjaman yang balk, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.

Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin.

Diserahkannya pada suatu hari limaratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara islam ...dan di hari yang lain seribu limaratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan r.a. yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya:"Harta Abdurrahman bin 'Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat".


Jumaat, 25 Disember 2009

Abdullah Bin Ummi Maktum : Pahlawan buta yang membawa panji ke tengah-tengah medan pertempuran

Dalam sejarah Islam dia dikenal memiliki ilmu dan adab istimewa yang dikaruniakan oleh Allah kepada dia, menggantikan kebutaan matanya, sebagai cahaya

dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga dia dapat melihat dengan mata hati apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Hatinya dapat mengintip apa yang tersembunyi. Bila Rasulullah saw pergi ke berbagai medan peperangan, dia selalu ditunjuk menjadi wakil beliau di Madinah, mengimami shalat jamaah di mihrab beliau, dan berdiam di sebelah kiri mimbar dengan penuh khusyu'.



Tidak seberapa lama awal sejarah Islam di Mekah, Ibnu Ummi Maktum memperoleh hidayah hatinya untuk bergabung bersama orang-orang yang telah masuk Islam pada masa permulaan. Ketika itu dia masih muda belia, dan hatinya merasakan betul manisnya keimanan. Menginjak masa dewasa dia merasakan bahwa ajaran Islam telah menjadikan hatinya bersih, sehingga walaupun matanya buta namun dia tidak mendapatkan hal itu kecuali sebagai nikmat besar yang dikaruniakan oleh Allah kepada dirinya. Dimana dengan sebab itu Allah memberi kemampuan memandang ajaran kebenaran dengan pancaran mata hatinya. Di sini, dia dapat memahami makna yang hakiki dari firman Allah— yang artinya: Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.”

Kemudian, timbul keyakinan di dalam hati Ibnu Ummi Maktum bahwa Allah memberi dia keistimewaan, yaitu keistimewaan yang diberikan juga kepada orang-orang buta seperti dia atas manusia lainnya, bahwa dia akan membalas mereka dengan pahala surga. Yang demikian itu tatkala dia mendengar hadist berikut:

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, “Sesungguhnya Jibril datang kepada Rasulullah saw, yang ketika itu Ibnu Ummi Maktum sedang bersama beliau”. Dia lalu bertanya, “Sejak kapankah pandanganmu buta?” Jawabnya, “Sejak aku kecil”. Dia berkata, “Firman Allah swt: Jika aku mengambil suatu kemuliaan seorang hamba niscaya AKU tidak akan memberi dia pengganti selain pahala syurga...”

Ibnu Ummi Maktum mempunyai perasaan yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Setiap menjelang waktu fajar, dengan perasaan jiwa yang segar dia keluar dari rumahnya dengan bertopang pada tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang dari kaum Muslimin untuk mengumandangkan adzan di masjid Rasul. Dia selalu bergantian adzan bersama Bilal bin Rabah. Jika salah satu dari mereka berdua adzan maka yang satunya bertindak mengumandangkan iqamat. Akan tetapi Bilal mengumandangkan adzan semalam untuk membangunkan kaum Muslimin, sedangkan Ibnu Ummi Maktum mengumandangkannya waktu subuh. Sehingga, karenanya Rasulullah saw bersabda, “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan...”

Allah telah memuliakan Ibnu Ummi Maktum, yang mana Dia menegur Nabi saw karenanya. Yaitu ketika Nabi sedang duduk bersama beberapa orang Qurais yang diantara mereka terdapat Uqbah bin Rabi'ah dan beberapa orang tokoh lainnya. Beliau bersabda, “Tidakkah baik sekiranya kamu datang dengan begini dan begini?”

Kata mereka, “Benar.”

Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum datang menanyakan tentang sesuatu kepada beliau dan beliau mengelak karena sangat sibuk berbicara dengan mereka. Lalu, Allah menurunkan ayat yang berbunyi: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya —yakni Ibnu Ummi Maktum. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup—yakni Ukbah dan kawan-kawannya—maka kamu melayaninya. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah) maka kamu mengabaikannya—yakni Ibnu Ummi Maktum...”

Sewaktu ayat ini turun Rasulullah lantas memanggil Ibnu Ummi Maktum dan memberi dia suatu kehormatan dengan menunjuknya sebagai wakil beliau di Madinah pada saat beliau menghadapi peperangan untuk yang pertama kalinya.

Karena itu pula maka Ibnu Ummi Maktum memiliki kedudukan tinggi di kalangan penduduk Madinah. Apalagi dia seorang sahabat yang paling banyak menghafal ayat al-Qur'an, sebagaimana pula banyak hafal hadist-hadist Rasulullah. Lain dari pada itu Ibnu Ummi Maktum bercita-cita untuk dapat mengikuti jihad di medan peperangan walaupun matanya buta. Dia menyampaikan keinginannya itu kepada sahabat-sahabat Rasulullah. Tentu saja para sahabat mereka merasa amat senang karena keutamaan yang dimiliki Ibnu Ummi Maktum.

Suatu kali Ibnu Ummi Maktum merasa sangat sedih dan pilu hatinya tatkala turun wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi, “Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang).”

Ibnu Ummi Maktum berkata, “Ya, Tuhanku! Engkau memberiku ujian begini, bagaimana aku dapat berbuat...??”

Kemudian turunlah ayat—yang berbunyi, “Selain yang mempunyai udzur...”

Penghormatan macam apakah gerangan yang lebih tinggi dari penghormatan serupa ini, dimana wahyu dua kali diturunkan lantaran persoalan Ibnu Ummi Maktum; yang pertama merupakan teguran kepada Nabi saw, dan yang kedua ketentuan berperang bagi orang yang mampu dan yang berhalangan, termasuk diantaranya adalah Ibnu Ummi Maktum.

Namun demikian, Ibnu Ummi Maktum tetap kuat hasratnya untuk dapat berperang bersama barisan kaum mujahidin. Dia telah mengutarakan hasratnya ini hingga berkali-kali. Kata dia kepada sahabat-sahabat Rasulullah, “Serahkanlah panji kepadaku, karena sesungguhnya aku adalah seorang buta sehingga tidak akan dapat melarikan diri! Tempatkanlah aku di antara kedua pasukan!”

Sang sahabat mulia dan agung ini tidak berakhir hayatnya sebelum Allah mengabulkan hasrat hatinya tersebut. Pada saat perang Qadisiyah dia sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam. Dialah seorang buta pertama yang turut berperang dalam sejarah peperangan Islam.

Sejarah tadi tertunduk di hadapan perjalanan hidup laki-laki yang agung ini. Betapa sedikit dan jarang sekali seseorang tercatat demikian kehidupannya oleh sejarah.